menanti dalam kemunafikan

Dia bersama dia

Dia bersama mereka

Aku tak pernah bersama dia

Tak pernah bersama mereka

Walau sebentar.. disana . tak di izinkan

Sabar .. penantian tak ada habisnya

Setia menanti sapaan ditemani senyuman

 

Embun telah membeku bisu

Pucuk – pucuk menyatu satu layu

Belalang berhenti terbang mencari padang ilalang

Berdampingan mengiringi kematian harapan

 

Lirih , lirih , lirih

Letih selalu dibohongi

Kini diri ingin berlari

Bersembunyi di air suci benci

Di selimuti caci maki

Dan  tak bisa dipungkiri

Hati ini bermimpi dalam duri

 

Kebodohan diri melukai

Lebih keji dari munafik

Sebelum terlambat harus terucap

Posted on Februari 5, 2012, in Catatan Emosi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: